* Perlu Lembaga medis Independent Seleksi Kesehatan Cagub dan Cawagub Kalbar
POSTKOTAPONTIANAK.COM
(PONTIANAK)-Munculnya sejumlah pasangan Balon Gubernur Kalbar yang tersiar belakangan ini, telah menjadi perhatian publik. Opini pun bermunculan, kalau pelaksanaan Pilkada Kalbar tahun 2012 ini rana politiknya yang tadinya masih tanda tanya alias tidak jelas, kini sudah semakin jelas. Bahkan yang tadinya dianggap sebagai politik dagang sapi, kini sudah mulai terang berderang dan tidak ada lagi yang namanya sosok balon yang diindikasikan hanya menjadi wayang dari balon lainnya (Incumben. red).
Dari pengamatan dilapangan, pada Pilgub Kalbar periode 2012-2013 akan ada 5 pasangan calon yang ikut bersaing. Kali ini masyarakat akan menjadi penguasa untuk memilih salah satunya.
Meski demikian, dari balon pemimpin daerah yang muncul tersebut, jelas hitung-hitungan pastilah ada. Baik Tim sukses, keluarga serta kolega akan menuntut haknya kepada Gubernur terpilih nantinya. Yang namanya pengorbanan yang dikeluarkan, baik itu tenaga, materi, pemikiran bahkan uang tentu menjadi hitungan utama bagi pimpinan yang terpilih, maka tentu pada giliranya apa yang dirasakan masyarakat pemimpin masa lalu, tentu tak jauh bedanya akan terjadi dan janji-janji kampanye pasti hanya sebagai retorika belaka. Semua akan terlupakan begitu sosok yang diusung nantinya terpilih, bukan rahasia unum dan sudah benyak contohnya.
Sampai hari ini, sudah ada beberapa Balon Gubernur yang sudah semakin gencar mempersiapkan diri. Wajahnya sudah terpanpang disepanjang jalan protokol. Beberapa balon diantaranya bahkan sudah mendaftarkan diri ke PDUD Kalbar. Sementara yang belum mendaftar masih melihat suasana yang menguntungkan untuk meraih kemenangan. Karena jika figur gubernur yang akan maju salah pilih pasangan, maka dapat diibaratkan sama halnya membuang garam ke sungai kapuas.
Untuk mendapatkan perahu, bukan rahasia umum lagi nilainya cukup fantastis per kursi bisa lebih dari Rp.500 juta. Sementara Parpol pengusung Balon Gubernur Kalbar tahun 2012 masih kasak kusuk untuk melakukan loby-loby soal untung ruginya dalam mengusung figur. Begitu juga induk Parpol ditingkat DPP juga membuat hitung-hitungan.
Jika figur yang diusung tersebut dinilai akan berhasil menang, rekomendasi segera diterbitkan dan tentunya akan melakukan intervensi guna menggolkan berbagai kepentingan jika jagonya duduk di kursi nyaman pemerintahan. Lantas apa yang akan diperoleh masyarakat Kalbar setelah memberikan suaranya untuk calon pemimpinnya? Tentu tidak bisa diharapkan, karena serangan fajar yang biasanya menyebar dalam pesta demokrasi tega mengorbankan kesengsaraan masyarakat selama lima tahun. “Maka dari itu masyarakat diharapkan cerdas dalam menentukan pilihan pemimpin Kalbar kedepan dan tidak menyesalinya dikemudian hari,” ujar Handy Abdul Syukur, SH, Ketua KP & BH, kemarin.
Menurut Handy Abdul Syukur, setelah diamati dibeberapa kabupaten/kota di Kalbar, tampaknya masyarakat masih menaruh harapan akan munculnya calon pasangan pemimpin Kalbar berasal dari perpaduan kalangan mudah dan tua yang enegik. Pasangan tersebut telah berkipra pada dunia politik, berlatar belakang profesional dan birokrat, bersih dan bebas dari KKN. “Tampaknya masyarakat akan tertarik jika ada pasangan mudah dan tua yang berani mencalonkan dirinya unrtuk memimpin Kalbar kedepan,” katanya.
Masyarakat juga menghedaki calon Gubernur Kalbar datang dari unsur multi etnik, yakni Dayak-Melayu, Non Muslim–Muslim, Muda–Tua, latar belakang Politik dan pengusaha serta dikenal masyarakat luas. “Wajar jika masyarakat menghendaki hal seperti itu agar Kalbar kedepan tidak lagi menjadi daerah yang selalu tertinggal dari propinsi lainnya. Karena maklum saja, pemimpin yang ada sekarang lebih mengedepankan kepentingannya,” sindirnya..
Ketika ditanya figur yang layak memimpin Kalbar periode mendatang, spontan Handy Abdul Syukur, menyatakan bahwa yang jelas pasangan tersebut wajah baru dan tidak memalukan untuk dipilih. Kalau yang dimunculkan wajah baru saja, namun tak layak, jelas akan membawa kerugian pada figur Gubernur itu sendiri. Selain rugi materi karena mobilisasi, juga moralitas akan membawa dampa negatif di publik. “Kita tetap yakin akan muncul figur calon Gubernur yang layak dalam waktu dekat ini sebagai pilihan alternatif,” tandasnya.
Ditambahkannya pula, opini yang berkembang di masyarakat belakangan ini bahwa sejumlah calon Gubernur kondisi kesehatan dipertanyakan. Oleh karena itu selayaknya pihak KPU dan IDI dapat mendatangkan lembaga medis dari luar yang bersifat independen agar tidak dikatakan ada unsur KKN dalam pemeriksaan kesehatan cagub dan cawagub nantinya. Masyarakat juga diharap memantau prasyarat seleksi kesehatan tersebut.(kliwon)