Tiga Adegan


 




 

Oleh Rosadi Jamani

Ada tiga adegan cukup menarik. Adegan satu, anak indigo asal Aceh berdasarkan mata batinnya akan ada capres terkena stroke. Adegan kedua, ada orang menyanyikan lagu Rhoma Irama berjudul “Mirasantika.” Adegan ketiga, bersatunya Said Didu dan Masington Pasaribu dengan berkata, “Satu dan tiga Selamatkan Demokrasi.”

Selamat pagi semua wak. Saya yakin masih ceria semua. Di hari libur ini isu politik tetap selalu menarik. Apalagi jelang pencoblosan 14 Februari depan. Tiga adegan itu menjadi sarapan pagi sambil seruput kopi.

Video ada orang Aceh mengaku anak indigo. Videonya viral karena meramal ada capres terkena serangan stroke, penyakit yang bisa membuat kelumpuhan fisik. Publik tahu kemana arah ramalan itu, termasuk capresnya. Untung ia tak nyebut nama capresnya. Kenapa video ini viral, karena anak indigo. Apa sih indigo itu?

Indigo, istilah ini digunakan untuk mendeskripsikan anak yang diyakini memiliki kemampuan atau sifat yang spesial, tidak biasa, dan bahkan supranatural. Konsep ini merupakan ilmu semu yang didasarkan pada gagasan Zaman Baru pada tahun 1970-an.

Membaca penjelasan itu, anak indigo hebat ya. Cuma, apakah anak dalam video itu benaran anak indigo, atau ia ngarang-ngarang, atau asal nyeblak, kate orang Betawi. Pengakuannya, ia anak indigo. Kalau saya ngaku anak indigo, boleh nggak. Anak indekos dikit goyangan (indigo), ngaco.

Bagi yang percaya, akan menshare video sampai viral. Bagi yang tidak, “ari gini percaya dukun!” itu manusia tak ada perubahan. Lho sendiri percaya ndak dengan anak indigo? Silakan jawab sendiri. Seruput kopi lagi.

Berikutnya, adegan seorang bapak menyanyikan lagu Rhoma Irama, Mirasantika. Di belakangnya ada foto gede, Presiden Jokowi. Dia pun bernyanyi seperti lirik di bawah ini:

_Dulu aku suka padamu dulu aku memang suka
(Ya-ya-ya)
Dulu aku gila padamu dulu aku memang gila
(Ya-ya-ya)

Sebelum aku tahu kau dapat merusakkan jiwaku (o-o, o-o)
Sebelum aku tahu kau dapat menghancurkan hidupku

Sekarang tak-tak-tak-tak
‘Ku tak mau tak mau tak-tak-tak-tak-tak
‘Ku tak mau tak mau tak (‘ku tak mau tak)
Sekarang tak-tak-tak-tak
‘Ku tak sudi tak sudi tak-tak-tak-tak-tak
‘Ku tak sudi tak sudi tak (‘ku tak sudi tak)_

Bagian reff, lidah saya rasanya belipet alias ribet. Sebuah adegan, pendukung yang dulu membela mati-matian, sekarang menjadi tak sudi lagi. Tak sudi lagi dukung Jokowi. Sebuah kekecewaan yang dilampiaskan dengan menyanyikan lagu Mirasantika. Memang banyak pendukung Jokowi kecewa karena tak sejalan dengan PDIP, parpol yang membesarkan karier politiknya. Jokowi tentu lebih memilih anaknya, Gibran yang berpasangan dengam Prabowo. Tak mungkin pula mendukung 01 atau 03 yang tak punya ikatan darah. Bernyanyi cara elegan melampiaskan rasa kecewa. Bagus juga, dari pada ngamuk tak tentu rudu, kate budak Pontianak.

Rasa kecewa juga pernah dirasakan pendukung Prabowo. Mereka juga mati-matian berjuang di lapangan saat bertarung dengan pendukung Jokowi di Pilpres 2019. Belum juga kering keringat, tiba-tiba Prabowo memilih bergabung dengan Jokowi di Kabinet Indonesia Maju. Para pendukungnya seperti ditinggal begitu saja. Nah, kekecewaan sama dirasakan pendukung Pakde. Untungnya hanya bernyanyi, tidak sampai menghancurkan televisi. Ada yang kecewa, ada yang senang. Begitulah hidup kita kawan. Ente bisa saja senang pagi ini, sorenya kecewa. Ibarat laut, ada pasang dan surut. Enjoy dan ngopi.

Adegan terakhir, bersatunya tokoh 01 Said Didu dan 03 Masington Pasaribu. Keduanya sama-sama mengumandangkan “Selamatkan Demokrasi Indonesia.” Apakah bersatu melawan 02 atau bersatu untuk untuk putaran kedua, belum tahu wak. Suka saja nontonnya, 01 dan 03 satu suara. Padahal, selama ini peperangan antara pendukung Anies dan Ganjar sangat sengit. Saya mau menantikan momen bersatunya PDIP dan PKS. Seperti apa ya kalau PDIP dan PKS satu kolam, pasti seru. Akan muncul ungkapan, “Tak ada musuh yang abadi, kecuali kepentingan.” Omongan politisi itu jangan sepenuhnya dijadikan pegangan. Pagi tahu, sore tempe. Ia berteriak sesuai kepentingannya. Ketika kepentingannya sudah tercukupi, ia diam. Biarkan orang lain yang berteriak.

Ada satu lagi adegan, antitesa dari tiga adegan itu. Artis Rafi Ahmad yang dijuluki “crazy rich” Indonesia melakukan live di akun medsosnya. Bukan live begitu saja. Tapi, live bersama Prabowo. Di belakang Rafi ada 02 yang tersenyum ke jutaan follower suami Nagita Slavina itu. Maknanya, bagi yang suka menjelekkan 02, cukup senyumin saja, bila perlu dijogetin saja. Walaupun selalu kalah debat, 02 tetap dicintai dan dibuktikan di lembaga survei belum tergoyahkan. Walau debat kalah, pendukungnya menangis, tak tahu menangis sedih atau gembira. Menangis dalam kemenangan, mungkin.

Semakin seru dan kadang banyak hiburan. Kadang banyak ulah para pendukung membuat kita tertawa ngakak. “Ini kebodohan apa lagi yang mereka perlihatkan. Ada-ada saja.”

Satu hal menarik di Pilpres 2024, runtuhnya masa keemasan Cebong, Kampret, dan Kadrun. Betul ndak? Sudah sangat jarang perdebatan politik gunakan gelar itu. Kalau dulu, Anda mendukung Prabowo langsung dicap Cebong. Begitu juga dukung Prabowo, Kampret lho. Walaupun sudah runtuh, tetap saja ada gelar disematkan ke masing-masing capres dan cawapres. Saya tak perlu sebutkan. Cuma, gelar itu tak lah segemilang Cebong dan Kampret dulu.

Yang menarik lagi, panasnya politik hanya di dunia maya, tidak dengan dunia nyata. Antarpendukung tak jarang ngopi bareng. Pilpres hanya sementara, persahabatan selamanya. Saya suka ungkapan ini, tandanya orang kita masih banyak yang waras.

#camanewak



Caleg


Write a Reply or Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *