DI SAAT TRAMBESI BERBUNGA
by Iwan Wientania

Masih ingatkah kau padaku yang menyelinap di taman rumahmu, lantas berdiri di belakangmu ketika kau merajuk lantaran cemburu…?
Saat itu kita baru remaja.
Masih ingatkah kau padaku kala kita bersama menyusuri jalan dinaungi trambesi, dengan bunga warna pink yang semerbak dalam hembusan angin di bulan April…?
Ketika itu kita baru duduk di bangku SMP.
Masih ingatkah kau padaku saat kau katakan, “Bagaimana bila seminggu tak berjumpa, sedangkan sehari saja rasanya tak bisa,” sementara senja hampir berlalu di bulan Desember yang basah dengan hujan dan derai air mata?
Saat ini kita dipisahkan oleh kondisi dan waktu,
bukan sehari, bukan pula seminggu atau setahun dua, tapi puluhan tahun waktu yang membuat kita menua…
Kini, di manakah kau berada?
Trambesi peninggalan Belanda itu sudah puluhan kali berbunga, bahkan telah tiada,
seperti bayanganmu yang menghilang di bawahnya.
Berkali-kali kulewati jalan itu bila kembali ke kota kita: memandang sungai, rerumputan yang hijau, trambesi dengan bunga semerbak di bawah teja di ujung senja, dan sekilas bayanganmu tersenyum, kemudian menghilang entah ke mana.
Masih ingatkah kau padaku di saat trambesi berbunga?
(April 2026)











