SEBUAH WASIAT
Rumah orang tua adalah rumah anak. Harta orang tua adalah harta anak. Makanan orang tua adalah makanan anak.
Tapi rumah, harta, dan makanan anak belum tentu merupakan bagian untuk orang tua.
Orang tua dapat mengasuh, menjaga, dan merawat beberapa anaknya.
Tapi beberapa orang anak belum tentu dapat melindungi dan merawat seorang ibu atau ayahnya.
Orang tua berkata pada anaknya, “Susahmu adalah susahku dan sakitmu adalah sakitku.”
Tapi tatkala orang tua susah, sedih, dan sakit, tak jarang hanya menjadi bagi dirinya sendiri. Sepinya sepi sendiri.
Kalau seorang anak tak menghormati orang tuanya, boleh jadi pasangan hidupnya dan anak-anaknya lebih tidak menaruh hormat pada orang tuanya.
Pada suatu hari, seorang anak muda yang sukses ekonominya datang kepada Rasulullah dan berkata, “Dapatkah saya membalas jasa orang tua saya?”
Rasulullah menjawab, “Kau berikan hartamu sebesar Bukit Uhud pun kau tak dapat membalasnya!”
Di lain waktu, ada lagi seorang pemuda datang kepada Rasulullah dan bertanya, “Siapakah yang pantas kuberbakti padanya, ya Rasulullah?”
Rasulullah menjawab, “Orang tuamu.”
“Mereka sudah tiada, ya Rasulullah,” jawab sang pemuda.
“Adakah bibimu?” tanya Rasulullah.
“Ada, ya Rasulullah!” jawab pemuda itu.
“Kepadanyalah kamu berbakti,” kata Rasulullah.
Kalau kepada bibi saja seseorang harus berbakti, bagaimana pula terhadap orang tuanya.
Maka beruntunglah seorang anak yang orang tuanya masih ada di depan matanya, walau dia hanya sekadar tidak meninggikan suaranya karena marah!
(Iwan Hasanul Akmal)











