
[POSTKOTA] MEMPAWAH – Perubahan iklim yang kian nyata dan mendesak menuntut langkah-langkah nyata, terutama di tingkat lokal. Kabupaten Mempawah dinilai memiliki potensi besar untuk menjadi pionir transisi energi bersih di Kalimantan Barat, khususnya melalui pemanfaatan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS).
Hal ini disampaikan oleh Fathul Bari, M.Pd, Alumni Green Leadership Indonesia dan Mahasiswa Program Doktoral Universitas Negeri Malang. Ia menilai, ancaman krisis iklim global harus dijawab dengan solusi konkret yang berpihak pada keberlanjutan.
“Fenomena triple planetary crisis yaitu hilangnya keanekaragaman hayati, perubahan iklim, dan polusi udara harus dihadapi dengan komitmen kuat, salah satunya melalui energi bersih,” ujarnya, Rabu (30/7/2025).
Fathul mengutip laporan Panel Antarpemerintah tentang Perubahan Iklim (IPCC) yang menyebut bahwa emisi gas rumah kaca global harus mencapai puncaknya paling lambat pada 2025 dan turun hampir separuhnya pada 2030 untuk menahan kenaikan suhu di bawah 1,5°C. Sayangnya, Indonesia justru diprediksi mengalami kenaikan emisi di sektor energi mencapai 1.817 MtCO₂e pada 2030.
Kabupaten Mempawah, menurut Fathul, memiliki potensi luar biasa dalam pengembangan energi terbarukan. Berdasarkan data Kementerian ESDM tahun 2024, Kalimantan Barat memiliki potensi tenaga surya sebesar 25,5 gigawatt (GW) dan 20,1 GW di antaranya berada di wilayah Kalbar, termasuk Mempawah.
“Wilayah ini sangat ideal untuk dikembangkan menjadi pusat PLTS, dengan suhu rata-rata siang hari mencapai 33 derajat celcius,” katanya.
Ia menambahkan, pemanfaatan PLTS untuk lampu jalan desa bisa menjadi langkah awal strategis untuk menjawab tantangan ketimpangan akses listrik. Melalui sistem PLTS off-grid, desa-desa di Mempawah dapat menikmati penerangan malam hari tanpa bergantung pada jaringan PLN atau energi berbasis fosil.
Lebih lanjut, Fathul menggarisbawahi urgensi pemanfaatan energi panas untuk listrik, terutama di wilayah seperti Mempawah Timur dan Segedong yang memiliki banyak pohon kelapa yang rawan tumbang dan mengganggu kabel listrik.
Selain itu, dorongan terhadap kendaraan listrik juga penting untuk mendukung ekosistem energi bersih. Ia menilai, Mempawah memiliki peluang besar menjadi wilayah percontohan transisi transportasi berbasis energi terbarukan di Kalimantan Barat.
Namun demikian, ia juga mengingatkan agar pengembangan energi terbarukan tidak mengorbankan ekologi. “Energi bersih yang kita dorong bukan energi terbarukan yang merusak hutan, seperti biomassa yang berpotensi menimbulkan deforestasi jika tak diawasi ketat,” tegasnya, merujuk laporan Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Kalbar tahun 2025 yang mencatat hilangnya 39.598 hektare hutan sepanjang 2024.
Fathul menegaskan, emisi dari PLTS hanya sekitar 18–48 gram CO₂e per kWh, jauh lebih rendah dibanding batu bara yang bisa mencapai 740–820 gram. Karena itu, kombinasi PLTS dan kendaraan listrik menjadi solusi ideal yang minim emisi dan berpihak pada masyarakat lokal.
“Saatnya Mempawah tidak hanya menyalakan lampu jalan, tetapi juga menyalakan harapan bagi masa depan energi bersih Indonesia,” pungkasnya.











