JANGAN SAKITI HATINYA

Iwan Wientania

Seorang ibu paruh baya yang baru masuk ke restoran tempat aku duduk, tiba-tiba menghempaskan botol susu anaknya ke atas meja di hadapanku, aku terkejut.
Air susu itu muncrat membasahi wajah dan kemejaku.

Kulihat suaminya hanya memandang tanpa berkata, lalu terus saja memesan makanan, seolah tak terjadi apa-apa. Sementara orang-orang di sekitarku ikut terkejut dan serentak memandang ke arah kami. Mungkin mereka menunggu reaksiku terhadap ibu itu.

“Maaf, Pak,” kata ibu itu kepadaku. Lalu ia mengomel keras pada bayi dalam gendongannya yang usianya mungkin belum genap setahun. Ia juga mengomel dalam bahasa daerah yang tak kumengerti kepada suaminya yang tetap cuek.

“Ibu, jangan marah begitu…” Hanya itu yang keluar dari lisanku.
Aku tak peduli dengan air susu yang membasahi wajahku, tapi hatiku sangat peduli pada bayi yang ada dalam gendongannya.

Aku teringat, pernah mengambil palu ketika anakku yang baru lima tahun melompat pagar rumah kami yang bagian atasnya runcing seperti tombak.

Bukan untuk memukul anakku, tapi ujung pagar itu kuhantam hingga patah berserakan. Aku merinding membayangkan kalau anakku tertusuk pagar itu, yang dulu dibuat untuk menakut-nakuti maling.

Beberapa hari lalu, kulihat seorang ibu membentak anak balitanya karena tidak mau makan. Anak itu menangis terisak-isak, tampak sangat sedih.
Setiap kali ibu itu membentaknya, dadaku serasa dipukul.

“Jangan dimarahi… Dia masih kecil, mungkin dia belum ingin makan,” kataku.
Ku-usap kepala bayi itu pelan. Sinar matanya seperti mengadu bahwa hatinya terluka.

Aku jadi teringat sebuah riwayat:
Suatu hari Rasulullah ﷺ menggendong bayi seorang sahabat, tapi sahabat itu merentakkannya dari pelukan beliau.

Rasulullah ﷺ terkejut, “Kenapa kau rentakkan dia dariku?” tanya beliau.
“Saya takut dia mengompolimu, ya Rasulullah,” jawab sahabat itu.

“Kalau dia mengompoliku, baju ini bisa dicuci. Tapi bagaimana kau membersihkan hatinya karena sikapmu yang kasar tadi?” jawab Rasulullah ﷺ.

Di dunia ini, berapa banyak orang yang memohon kepada Allah agar diberi anak. Ada yang menghabiskan ratusan juta untuk program bayi tabung, namun tak berhasil. Tapi tak sedikit pula orang tua yang melukai hati anaknya sendiri karena tidak sabar.

Mereka tidak sadar bahwa bentakan demi bentakan, omelan demi omelan kepada anak balita, bisa berakibat buruk saat dewasa nanti.
Ada yang menjadi penakut atau peragu. Ada pula yang menjadi pembentak dan pelawan. Jika kelak jadi aparat, ia bisa membentak bawahan dan rakyat.

Dan yang paling celaka, ia tidak merasa berdosa dan durhaka, walau sudah ratusan kali membentak orang tuanya sendiri.

Awal Juli 2026


Write a Reply or Comment