SAJAK ORANG TUA

by Iwan Wientania

Siapa bilang kita miskin.
Cincin perak memang di jari tapi cincin platinum tiga sampai lima di jantung.

Bukan hanya rambut laksana perak bahkan jenggot dan alis pun bak mutiara berkilauan.

Kaki dulu hanya dua.
Sekarang sudah jadi tiga.
Bahkah bisa tambah empat karena mesti pakai tongkat.

Dulu langkah panjang-panjang seakan mengejar pencuri.
Sekarang perlahan-lahan.
Setapak demi setapak.
Begitu anggun seperti tuan putri.

Makin tua ternyata semakin berminyak laksana kelapa.
Semakin bijak dan pandai bermatematika.
Bukan menghitung harta dan duit di laci meja.
Tapi menghitung khilaf, salah dan dosa di kala muda.

Kalau tidak demikian
lantas mau apa lagi…
Mau ngobrol di kedai kopi bukan tak mampu beli tapi tulang punggung tak mau kompromi.

Sementara hari berjalan terus tanpa permisi.
Jasad menua berlaku pasti.
Siapa orang mau peduli.
Paling cuma mengusung kerenda mati.

Juni 11 – 2026


Write a Reply or Comment