
[POST KOTA] MEMPAWAH — Di tengah hamparan lahan yang menghitam dan menyisakan jejak kebakaran, penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Mempawah tidak berhenti pada pemadaman api.
Pangkogabwilhan I Letjen TNI Kunto Arief Wibowo, S.I.P., turun langsung ke lokasi terdampak karhutla di Desa Wajok Hilir, Kecamatan Jungkat, Kabupaten Mempawah, Jumat (4/9/2026).
Didampingi Danrem 121/Abw Brigjen TNI Purnomosidi, S.I.P., M.A.P., M.Han. dan Dandim 1201/Mempawah Letkol Czi Ali Isnaini, S.E., M.Han., Pangkogabwilhan I tidak hanya melihat kondisi lahan dari kejauhan. Ia turut terlibat langsung dalam upaya pemulihan lahan dengan mengaplikasikan Bios 44 pada area yang terdampak kebakaran.
Langkah tersebut menjadi pesan kuat bahwa perang melawan karhutla tidak hanya dilakukan ketika api berkobar. Setelah api dipadamkan, perjuangan berlanjut untuk memastikan lahan tidak kembali menjadi sumber titik api.
Dengan kondisi lahan gambut yang mudah terbakar, penanganan membutuhkan langkah yang lebih jauh dari sekadar pemadaman. Bios 44 diaplikasikan sebagai bagian dari pendekatan preventif dan pemulihan lahan, dengan harapan kondisi tanah dapat kembali lebih lembap dan padat sehingga potensi munculnya api dari lapisan bawah dapat ditekan.
Dandim 1201/Mempawah Letkol Czi Ali Isnaini, S.E., M.Han., mengatakan keterlibatan langsung pimpinan TNI di lapangan menjadi motivasi bagi seluruh personel yang selama ini berada di garis depan penanganan karhutla.
«“Ini bukan hanya persoalan memadamkan api. Setelah api padam, kita harus memastikan lahan tersebut tidak kembali terbakar. Karena itu, upaya pencegahan dan pemulihan harus berjalan bersama,” ujar Dandim.»
Menurutnya, kondisi karhutla di wilayah Mempawah membutuhkan kerja bersama dan berkelanjutan. Personel TNI bersama unsur terkait terus melakukan pemantauan wilayah, penanganan titik api, serta mengedukasi masyarakat agar tidak melakukan pembakaran lahan.
«“Pencegahan adalah kunci. Kita tidak ingin masyarakat kembali berhadapan dengan asap dan api. Apa yang dilakukan hari ini merupakan bagian dari ikhtiar untuk menjaga wilayah Mempawah tetap aman dari ancaman karhutla,” tambahnya.»
Kehadiran Pangkogabwilhan I di tengah lahan terdampak menjadi gambaran nyata bahwa penanganan karhutla membutuhkan keberanian untuk turun langsung, melihat persoalan dari dekat, sekaligus mengambil langkah nyata.
Dari lahan yang pernah dilalap api, upaya pemulihan mulai dilakukan. Bukan hanya memadamkan api yang terlihat, tetapi juga berusaha mencegah api kembali muncul dari dalam tanah.
Upaya tersebut sekaligus memperkuat komitmen TNI bersama pemerintah daerah dan seluruh elemen masyarakat dalam menghadapi ancaman karhutla di Kalimantan Barat, khususnya Kabupaten Mempawah.











