
[POST KOTA] Sungai Nipah, Kec.Jongkat — Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW digelar di Masjid Baitul Makmur, Jungkat, dengan mengangkat tema “Mari Tingkatkan Cinta kepada Rasulullah melalui Iman, Ilmu dan Akhlak Mulia”. Kegiatan tersebut berlangsung meriah dan dihadiri hampir 1.000 jamaah dari berbagai kalangan, mulai dari anak-anak, remaja, hingga orang tua dan lansia.
Antusiasme masyarakat terlihat sejak awal kegiatan. Halaman Masjid Baitul Makmur dipadati jamaah hingga meluber ke sekitar halaman rumah warga. Meski jumlah jamaah sangat banyak, masyarakat tetap antusias mengikuti rangkaian kegiatan dan menyimak ceramah yang disampaikan.
Peringatan Maulid Nabi diawali dengan penampilan merawis oleh para santri Darul Qalam Sengkong, Dusun Mawar, Sui Nipah, kemudian dilanjutkan dengan pembacaan surah beserta terjemahannya.
Rangkaian acara kemudian dilanjutkan dengan mahalul qiyam. Pada momen tersebut, para tamu undangan dan jamaah turut berdiri bersama mengikuti lantunan shalawat. Suasana pun semakin semarak dengan antusiasme jamaah yang memenuhi area Masjid Baitul Makmur.
Kegiatan tersebut turut dihadiri sejumlah tamu undangan dan unsur pemerintahan serta aparat keamanan, di antaranya perwakilan Koramil Jungkat, Polsek Jungkat, Camat Jungkat, Kepala Desa Sungai Nipah, serta Kepala Desa Jungkat.
Ceramah agama dalam peringatan Maulid Nabi disampaikan oleh Ustaz Dr. Hatoli, S.Sy., MH. Dalam tausiyahnya, ia mengajak seluruh jamaah untuk meningkatkan kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW, salah satunya dengan memperbanyak shalawat serta meneladani akhlak Rasulullah dalam kehidupan sehari-hari.
Ustaz Hatoli juga menekankan pentingnya memiliki iman yang kuat dalam menjalani kehidupan. Ia memberikan perumpamaan yang dekat dengan kehidupan masyarakat, salah satunya mengenai kepatuhan terhadap aturan lalu lintas.
Menurutnya, ketika tidak ada aparat yang mengawasi, masih banyak orang yang berani menerobos lampu merah. Namun, ketika terdapat polisi di persimpangan, masyarakat cenderung lebih tertib.
Hal tersebut, menurut Ustaz Hatoli, menjadi gambaran bahwa keimanan seseorang tidak seharusnya hanya terlihat ketika ada yang mengawasi. Iman harus menjadi pedoman dalam kehidupan, termasuk ketika tidak ada orang lain yang melihat.
“Iman itu harus kuat. Bukan hanya tertib ketika ada polisi, tetapi juga tetap tertib ketika tidak ada yang melihat,” pesannya.

Dalam kesempatan tersebut, Ustaz Hatoli juga mengaitkan keberadaan berbagai unsur masyarakat, seperti polisi, tentara, pemerintah, hingga ketua panitia, dengan peran dan manfaatnya dalam kehidupan bermasyarakat. Ia mengingatkan bahwa setiap orang memiliki tanggung jawab dan amanah yang harus dijalankan dengan sebaik-baiknya.
Ceramah juga diselingi dengan berbagai pantun yang disampaikan Ustaz Hatoli. Pantun-pantun tersebut beberapa kali mengundang gelak tawa jamaah, sehingga suasana ceramah berlangsung santai dan penuh keakraban, namun tetap sarat dengan pesan keagamaan.
Ustaz Hatoli turut mengingatkan bahwa manusia tidak akan pernah sepenuhnya terlepas dari godaan setan. Ia mengangkat kisah Nabi Adam AS ketika tergoda untuk memakan buah khuldi sebagai salah satu pelajaran bahwa manusia harus senantiasa berhati-hati terhadap godaan dan berusaha menjaga keimanan.
Selain kisah Nabi Adam AS, Ustaz Hatoli juga membahas kisah Nabi Ibrahim AS dan Nabi Isa AS. Kisah-kisah tersebut dikaitkan dengan kehidupan manusia pada masa sekarang agar jamaah dapat mengambil hikmah dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam ceramahnya, Ustaz Hatoli juga menekankan pentingnya ilmu. Menurutnya, ilmu dapat membuka jalan bagi masa depan seseorang. Orang yang memiliki ilmu dan mengamalkannya akan mendapatkan kedudukan yang mulia karena Allah SWT mengangkat derajat orang-orang yang beriman dan berilmu.
Ia kemudian menyampaikan pesan mengenai makna A’in, Lam, Mim sebagai bagian dari pembahasan tentang ilmu. Ustaz Hatoli mengingatkan bahwa orang yang benar-benar berilmu seharusnya tidak menjadi pribadi yang sombong.
Menurutnya, kesombongan justru menunjukkan bahwa seseorang belum memahami hakikat ilmu. Sebab, segala sesuatu yang dimiliki manusia, baik ilmu, harta, kedudukan maupun kemampuan, pada hakikatnya merupakan titipan dari Allah SWT.
“Orang berilmu itu tidak sombong. Kalau sombong berarti tidak berilmu. Karena semua titipan Allah, apa yang perlu disombongkan?” pesannya kepada jamaah.
Ustaz Hatoli juga menyinggung kondisi sosial dan pemerintahan di era sekarang, termasuk persoalan demonstrasi, amanah aparat dan pemerintah, serta praktik korupsi. Ia mengingatkan bahwa pemimpin memiliki tanggung jawab besar untuk menjalankan amanah yang diberikan masyarakat.
Ia juga mengingatkan bahwa masyarakat memiliki peran dalam menentukan pemimpin melalui suara dalam pemilihan. Karena itu, masyarakat diharapkan tidak mudah menjual suara atau menentukan pilihan hanya karena iming-iming tertentu.
Menurutnya, pilihan masyarakat turut menentukan siapa yang nantinya menjalankan amanah sebagai pemimpin. Karena itu, masyarakat juga memiliki tanggung jawab untuk memilih dengan baik dan tidak menggadaikan suara demi kepentingan sesaat.

Pesan lainnya yang ditekankan adalah pentingnya kejujuran. Ustaz Hatoli mengingatkan jamaah agar tidak berbohong dan senantiasa membiasakan diri berkata jujur, karena kejujuran merupakan bagian dari akhlak mulia yang harus diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Hingga ceramah berlangsung, jamaah masih tampak antusias mengikuti setiap pesan yang disampaikan. Anak-anak, remaja, hingga orang tua dan lansia terlihat memenuhi kawasan Masjid Baitul Makmur dan tetap menyimak jalannya tausiyah.
Melalui peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW tersebut, Ustaz Hatoli mengajak jamaah untuk tidak hanya mengenang kelahiran Rasulullah, tetapi juga mewujudkan kecintaan kepada beliau dalam kehidupan sehari-hari melalui iman yang kuat, ilmu yang bermanfaat, memperbanyak shalawat, serta akhlak yang mulia.
Ceramah masih berlangsung dengan penyampaian berbagai pesan keagamaan dan kisah para nabi yang dikaitkan dengan kehidupan masyarakat pada masa sekarang.
Penulis: Ersa Amelia Putri











