GUS KIKIN DAN HARAPAN KEMBALINYA KEPEMIMPINAN NU KE TEBUIRENG: SUARA MORAL DARI ALUMNI DAN KALANGAN AKADEMISI

Pontianak, Postkota Pontianak – Menjelang Muktamar Nahdlatul Ulama yang akan datang, dukungan moral terhadap KH Abdullah Hakim Mahfudz atau yang akrab disapa Gus Kikin terus mengalir dari berbagai kalangan pesantren, akademisi, dan warga nahdliyin di daerah.

Salah satu dukungan datang dari Dr. Moch Riza Fahmi, akademisi IAIN Pontianak sekaligus alumni Pesantren Tebuireng Jombang. Menurutnya, Gus Kikin merupakan sosok yang memiliki kombinasi lengkap antara kedalaman keilmuan pesantren, pengalaman organisasi, serta kapasitas kepemimpinan yang telah teruji dalam berbagai medan pengabdian.

“Gus Kikin bukan hanya representasi tradisi keilmuan Tebuireng, tetapi juga figur pemimpin yang matang secara organisatoris. Beliau telah membuktikan kapasitasnya sebagai Pengasuh Pesantren Tebuireng dan Ketua PWNU Jawa Timur. Pengalaman tersebut menjadi modal penting untuk membawa PBNU menghadapi tantangan zaman yang semakin kompleks,” ujar Riza.

Menurutnya, Nahdlatul Ulama saat ini membutuhkan figur pemersatu yang mampu merawat khittah organisasi sekaligus menjawab tantangan era digital, perubahan sosial, dan dinamika geopolitik global yang berdampak pada kehidupan umat.

Riza menilai bahwa Tebuireng bukan sekadar pesantren biasa dalam sejarah NU. Dari kompleks pesantren yang didirikan oleh Hadratussyaikh Hasyim Asy’ari inilah lahir fondasi keilmuan, tradisi, dan karakter organisasi yang kemudian berkembang menjadi gerakan Islam terbesar di Indonesia.

“Ketika berbicara tentang Tebuireng, kita sedang berbicara tentang akar sejarah NU. Tebuireng adalah rumah besar yang melahirkan banyak ulama, pemikir, dan pemimpin bangsa. Karena itu, munculnya Gus Kikin sebagai salah satu figur sentral PBNU merupakan bagian dari kesinambungan sejarah yang sangat wajar,” tambahnya.

Dukungan serupa juga disampaikan oleh Gus Ahmad Fauzi Faiz, Pengasuh Pesantren Darul Faizin Kota Pontianak. Menurutnya, NU memerlukan nahkoda yang mampu menjaga keseimbangan antara tradisi, modernitas, dan kemaslahatan umat.

“Gus Kikin memiliki karakter kepemimpinan yang tenang, inklusif, dan dekat dengan pesantren. Beliau memahami kebutuhan warga nahdliyin dari akar rumput hingga tingkat nasional. Karena itu kami memberikan dukungan moral agar beliau dapat terus mengabdi lebih luas untuk kemajuan jam’iyah Nahdlatul Ulama,” ungkapnya.

Bagi banyak kalangan nahdliyin, figur Gus Kikin dipandang sebagai representasi keberlanjutan tradisi keilmuan pesantren yang berakar kuat pada nilai-nilai Ahlussunnah wal Jamaah. Di tengah berbagai tantangan kebangsaan dan keumatan, sosok yang mampu merangkul seluruh elemen NU dinilai menjadi kebutuhan mendesak.

Muktamar mendatang tidak hanya akan menentukan arah kepemimpinan organisasi, tetapi juga menjadi momentum penting untuk memperkuat kembali peran NU sebagai penjaga moderasi Islam, perekat kebangsaan, dan penggerak peradaban.

Di tengah dinamika tersebut, nama Gus Kikin terus menjadi perbincangan. Bagi para pendukungnya, kepemimpinan bukan semata soal jabatan, melainkan amanah untuk merawat warisan ulama dan memastikan cita-cita besar Nahdlatul Ulama tetap hidup dalam denyut kehidupan bangsa.

“NU besar karena ulama. NU kuat karena pesantren. Dan masa depan NU membutuhkan kepemimpinan yang berakar kuat pada keduanya.” Ungkap Gus Fauzi.

 

HR


Write a Reply or Comment