CAHAYA BULAN SABIT KAMI

By Iwan Wientania

Pagi muncul perlahan, dan langit tampak biru kepucatan,

saat kabut tipis menyelimuti sungai di pinggiran kota.

Bayangan seorang gadis di pelataran melambaikan sapu tangan,

memanggil perahu klotok yang melaju di tengah sungai.

Aku tertegun, mengusap mata, betapa aku merindukannya setelah lama tak berjumpa.

Gadis itu bernama Nurhilana, yang artinya “cahaya bulan sabit kami”,

karena mungkin dia dilahirkan ketika cahaya bulan sabit menimpa kecipak air

di tiang-tiang jembatan Sungai Kapuas.

Bayangan itu berganti-ganti dengan puluhan bayangannya,

yang tersenyum dan tertawa,

juga ketika kami memancing udang lalu merebusnya di dalam kaleng mentega,

atau ketika kami berjalan bersama, di mana sekian mata menatap kami lama.

Setelah bertahun-tahun, aku baru sadar bahwa dia jelita,

sehingga terarah kepada kami banyak mata.

Bayangannya pun berganti pula ketika dia mengantarku ke dermaga,

lalu menaiki kapal laut “Pulau Serutu” menuju Jakarta,

dan dia berkata, “Beruntunglah kamu mengikuti bakat ayah,”

serta melarangku menjadi pegawai yang katanya gajinya tak seberapa.

Dia lebih percaya daripada aku sendiri

bahwa suatu saat aku akan menjadi seniman jaya.

Ya, dia memang selalu menyemangatiku, hingga bertahun-tahun lamanya.

Setelah kuliah di Seni Rupa Yogyakarta,

aku, sebagai seniman, kadang lupa hari dan lupa makan,

hingga terkapar di bangsal rumah sakit di Jakarta tanpa saudara,

dan aku jadi teringat padanya yang selalu memberiku semangat.

Setelah bertahun-tahun aku tak melihatnya lagi,

dan kini aku berdiri di pusaranya.

Dia telah meninggalkanku selamanya.

Tak terasa, air mataku jatuh berderai.

Dia adalah kakakku tertua, wanita kedua setelah ibuku yang tak tergantikan,

seorang perempuan yang sabar, penuh semangat dan empati,

suka berbagi sehingga puluhan adik angkat, anak angkat, dan saudara angkat

yang dia bantu pendidikan dan bahkan pekerjaan.

Dia adalah super starku yang tak tergantikan dan tak terlupakan selamanya.

(Akhir September 2025)


Write a Reply or Comment