
Mempawah, Postkota Pontianak – Peringatan Hari Buruh Internasional tahun ini kembali menjadi momentum perlawanan bagi kaum buruh di Indonesia. Alih-alih menjadi hari perayaan, realitas di lapangan justru menunjukkan bahwa buruh masih terjebak dalam ketidakadilan struktural yang terus berulang.
Sufiadi dengan tegas menyatakan bahwa negara telah gagal menghadirkan keadilan bagi para pekerja. Ia menilai kebijakan yang ada saat ini lebih condong melindungi kepentingan pemodal dibandingkan buruh sebagai tulang punggung pembangunan.
“Hari Buruh hari ini adalah bukti bahwa negara belum serius membela pekerja. Buruh masih dipaksa bertahan dengan upah rendah, status kerja tidak jelas, dan tanpa jaminan masa depan. Ini bukan kelalaian biasa, ini kegagalan sistemik,” tegasnya.
Ia juga mengkritik keras praktik outsourcing dan kontrak kerja yang dinilai semakin merajalela. Menurutnya, sistem tersebut merupakan bentuk eksploitasi terselubung yang dilegalkan oleh kebijakan.
“Buruh diperlakukan seperti alat produksi, bukan manusia. Mereka bisa dipakai lalu dibuang tanpa kepastian. Ini jelas bentuk penindasan yang tidak bisa lagi ditoleransi,” lanjut Sufiadi.
Tak hanya itu, ia juga menyoroti sikap pemerintah yang dinilai lebih mengutamakan investasi tanpa memperhatikan dampaknya terhadap kesejahteraan pekerja. Baginya, pertumbuhan ekonomi tidak boleh dibangun di atas penderitaan buruh.
“Jangan jadikan investasi sebagai alasan untuk mengorbankan hak-hak buruh. Jika kesejahteraan pekerja diabaikan, maka negara sedang menciptakan ketimpangan yang berbahaya,” ujarnya.
Sebagai Ketua DEMA STAI Mempawah, Sufiadi menegaskan bahwa mahasiswa tidak akan tinggal diam. Ia menyerukan solidaritas antara mahasiswa dan buruh untuk terus mengawal kebijakan yang berpihak pada keadilan. (Fl)











