
[POST KOTA] Mempawah, 19 Juli 2025 – Serangan kera liar di Desa Pasir Panjang, Kecamatan Mempawah Timur, Kalimantan Barat, kian meresahkan warga. Tidak hanya merusak pohon kelapa, satwa liar ini kini juga menyerang tanaman pisang dan komoditas lain milik petani. Konflik pun memuncak, beberapa warga bahkan mulai membawa senapan angin untuk memburu kawanan kera yang dianggap telah mengancam sumber penghidupan mereka.
“Saya dan beberapa warga disini sudah kehilangan puluhan tandan pisang dan buah kelapa muda dalam sebulan terakhir. Hancur semuanya sebelum bisa dipanen,” keluh Bapak Nahri, salah satu petani kelapa yang menjadi korban gangguan tersebut. “Kami sudah coba usir dengan berbagai cara, tapi mereka makin nekat, datang dalam kelompok besar, dan tidak takut manusia.”
Gangguan ini bukan hanya bersifat sporadis. Warga menyebut serangan kera terjadi hampir setiap hari, terutama pada pagi dan sore hari. Mereka datang dalam kelompok yang bisa mencapai puluhan ekor, memanjat pohon, memetik buah, dan meninggalkan kerusakan yang signifikan.
Warga Terpaksa Bertindak Sendiri
Minimnya respons dari pihak berwenang membuat beberapa warga mulai mengambil tindakan sendiri. “Ada yang sudah tidak tahan, bawa senapan angin buat jaga-jaga,” ujar Pak Nahri. “Warga disini sebenarnya tidak ingin menyakiti binatang, tapi kalau sudah begini, warga merasa tak punya pilihan. Ini soal makan atau tidak makan.”
Tindakan tersebut tentu memunculkan kekhawatiran baru: potensi konflik yang tidak hanya antara manusia dan satwa, tetapi juga antarwarga maupun dengan aparat penegak hukum. Hingga kini, belum ada intervensi konkret dari instansi terkait seperti Dinas Kehutanan atau Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Barat.
Perlu Penanganan Serius dan Terpadu
Ia menyayangkan meningkatnya ketegangan ini. Menurutnya, konflik seperti ini adalah gejala dari krisis ekologis yang lebih besar. “Ketika hutan mereka menyempit atau rusak, satwa liar seperti kera akan mencari makan di wilayah manusia. Solusi jangka panjangnya bukan pemburuan, tapi pendekatan berbasis konservasi dan mitigasi konflik,” jelasnya.
Ia juga menambahkan pentingnya keterlibatan pemerintah desa, dinas lingkungan, dan lembaga konservasi untuk melakukan asesmen menyeluruh. “Perlu dipetakan dari mana kera-kera ini berasal, bagaimana pola pergerakannya, dan apa saja faktor pendorongnya. Tanpa data, sulit membuat kebijakan yang adil bagi manusia dan satwa,” katanya.
Harapan Terakhir di Meja Pemerintah
Warga Desa Pasir Panjang saat ini berharap suara mereka didengar dan ada tindakan nyata yang bisa melindungi hasil kebun mereka tanpa harus berujung pada kekerasan terhadap satwa. Mereka mendesak agar pemerintah segera mengirim tim untuk memantau, berdialog, dan mencarikan solusi yang tidak merugikan salah satu pihak.
“Kalau terus dibiarkan, bukan hanya hasil panen yang hilang, tapi bisa jadi warga bertindak ekstrem. Kami tidak mau itu terjadi. Kami butuh pemerintah hadir sekarang,” pungkas Bapak Nahri.











