KESAN DI PERJALANAN

by Iwan Wientania

Aku mendengar panggilan untuk keberangkatan pesawat menuju Jakarta.

Agak bergegas aku melangkah ke pintu keberangkatan sambil menunjukkan tiket kepada petugas yang berdiri di belakang meja.

“Keberangkatan pesawat Garuda masih setengah jam lagi, sekarang ini keberangkatan Citilink,” kata petugas itu setelah membaca tiketku.

Aku berbalik menuju kursi di belakang, dan tanpa sengaja mataku menangkap seorang amoy cantik yang duduk sendirian.

Ia menganggukkan kepala sambil tersenyum padaku.

Aku sempat ragu, apakah benar senyum itu ditujukan kepadaku? Aku sama sekali tak mengenalnya. Karena bimbang, aku hanya terdiam. Namun, ia kembali menganggukkan kepala dengan senyum yang sama manisnya. Akhirnya aku membalas dengan anggukan dan senyum.

Dalam hati aku bertanya-tanya, siapa gerangan dia?

Amoy itu berpakaian rapi: kemeja putih sederhana, celana panjang krem yang longgar. Wajahnya natural, nyaris tanpa make-up. Usianya, kurasa, tak lebih dari seorang remaja yang baru masuk perguruan tinggi.

Aku lalu memilih duduk di kursi deretan depan, otomatis membelakanginya. Sambil mengeluarkan ponsel dari saku jas, pikiranku tak bisa lepas darinya. Mengapa ia menyapaku dengan cara yang begitu sopan?

Mungkinkah karena penampilanku: seorang pria berambut dan berjenggot putih, memakai gamis berlapis jas, dan menjinjing tas mahal pemberian ponakan? Mungkin ia menaruh hormat pada orang tua.

Ya, bisa jadi. Hari itu memang Jumat. Seusai salat Jumat, aku malas mengganti gamis dan jas, langsung saja menuju bandara.

Setengah jam kemudian, panggilan keberangkatan terdengar. Aku bangkit dan sempat menoleh ke belakang, namun amoy itu sudah tak ada di tempatnya.

Sesaat aku menduga, jangan-jangan ia hanya “peri” yang muncul sekilas, lalu menghilang. Atau barangkali halusinasi karena aku kurang tidur setelah hampir tiga pekan di Singkawang, Sungai Duri, dan Pontianak?

Ternyata tidak. Ia sudah pindah tempat, tak jauh dari posisiku berdiri.

Aku menyapanya dalam bahasa Inggris, “Where are you from?” — dengan dugaan, jangan-jangan ia wisatawan dari Korea atau negeri lain.

Ia sedikit tersipu. “I come from here,” jawabnya lembut, sambil tersenyum manis sekali.

Baru kali itu aku melihat amoy Pontianak sesantun dan sesopan itu.

“Maaf, saya kira dari kota lain,” balasku sambil berjalan ke depan.

Aku masuk pesawat lebih dahulu, lalu tak melihatnya lagi di tengah keramaian penumpang.

Namun, saat pesawat mendarat dan berhenti, aku berdiri menunggu giliran keluar. Sekilas aku melihat amoy itu duduk di kursi bagian depan. Ia menoleh, tersenyum, lalu menunduk sopan.

Sejenak aku berpikir: ternyata Pontianak punya anak-anak muda yang selembut dan seramah itu.

Aku melangkah melewatinya bersama penumpang lain.

Di ruang pengambilan bagasi, aku sempat bingung mencari lokasi pengambilan barang dari Pontianak. Maklum, aku hanya bepergian dua atau tiga tahun sekali, jadi agak canggung.

Aku bertanya pada seorang remaja laki-laki Tionghoa. Sigap ia melihat papan informasi, lalu berkata, “Di situ, Pak, di nomor dua belas, bersama penumpang dari Batam.”

Aku pun menuju ke sana. Saat menunggu koper di depan travelator, remaja itu kembali menghampiriku.

“Boleh saya bantu angkat barang Bapak?” tanyanya ramah.

Aku tercengang. Baru saja bertemu amoy santun, kini seorang pemuda Tionghoa juga menunjukkan keramahan.

“Boleh, boleh,” jawabku.

“Yang mana barang Bapak?” tanyanya sambil menatap koper-koper di atas belt.

“Itu, koper merah dan kardus hitam,” jawabku.

“Tidak ada yang lain, Pak?” tanyanya lagi sambil menurunkan koper dan kardusku ke troli.

“Hanya itu. Oya, kamu dari mana?” tanyaku.

“Dari bandara Singkawang, Pak,” jawabnya sambil tersenyum.

“Namamu?” tanyaku lagi.

“Jecko, Pak.”

“Terima kasih, Jecko,” ucapku.

Ia juga menunjukkan arah pintu keluar.

Sambil mendorong troli, pikiranku kembali teringat pada dua perjumpaan itu: amoy cantik yang santun, dan Jecko yang ramah.

Kalau aku masih muda, mungkin aku akan ge-er melihat senyum manis si amoy. Tapi lebih dari itu, aku merasa terkesan. Mereka Tionghoa, namun begitu ramah, familiar, dan santun kepada orang yang sama sekali tak mereka kenal.

Itu sungguh hal yang tak kuduga. Padahal di masa remajaku dulu, aku juga punya beberapa teman Tionghoa — di antaranya Rosa, istri Iskandar Ratananta, dan Atauw almarhum, gitaris handal Lolipop yang akhirnya menjadi mualaf. Kami bahkan pernah sebecak bersama di jalan Gajahmada, Pontianak.

Perjalanan kali ini, benar-benar meninggalkan kesan yang mendalam.

(Medio September 2025)

 


Write a Reply or Comment