TATKALA MEREKA MEMPOSISIKAN DIRI SEBAGAI PESAING TUHAN
By Iwan Wientania
Elite globalis yang merancang gagasan One World Government dan New World Order telah memposisikan diri mereka sebagai Tuhan, atau setidaknya sebagai pesaing dan pengganti Tuhan di muka bumi.
Oleh karena itu, mereka kerap disebut sebagai satanis.
Sebagaimana Mikhail Bakunin—tokoh yang pemikirannya lebih memengaruhi Lenin ketimbang Karl Marx—ia menganut paham sekularisme yang sangat ekstrem. Setelah lebih dari dua puluh tahun bergabung sebagai anggota Freemasonry, Bakunin menemukan kerangka filosofis dan ide-ide sosial-politik yang sangat anti-Tuhan.
Ia memandang setan sebagai pemimpin spiritual para revolusioner yang menumbangkan supremasi Kristen. Dengan lantang, ia bahkan memproklamasikan dirinya sebagai satanis dan mengibarkan bendera perlawanan terhadap superioritas Tuhan.
“Jika Tuhan benar-benar ada, maka penting untuk melenyapkannya,” tegasnya.
Dalam pandangannya, setan bukan sekadar pemberontak tertinggi, melainkan juga pejuang kebebasan tertinggi yang melawan tirani Tuhan.
Jika Francis Bacon mengatakan bahwa tidak ada konflik antara sains dan agama, maka Ludwig Feuerbach justru meyakini bahwa kepercayaan terhadap Tuhan hanyalah hasil proyeksi manusia yang merasa nyaman berlindung pada Tuhan ciptaannya sendiri.
Begitu pula Baron d’Holbach. Menurutnya, agama lahir dari kelemahan manusia dan tahayul. Manusialah yang menciptakan tuhan-tuhan. Agama, baginya, tidak lain hanyalah tindakan intelektual yang pengecut dan putus asa.
Sementara Sigmund Freud menyebut agama sebagai neurosis—sejenis penyakit saraf yang mendekati kegilaan—Juan de Prado menyatakan bahwa hanya rasio semata yang menjadi penentu kebenaran. Baginya, agama-agama tidak lebih dari sekadar sampah.
Jika para pendahulu mereka, seperti John Locke dan Jean-Jacques Rousseau, masih tergolong kaum deis—yakni mereka yang tetap percaya kepada Tuhan namun menolak agama sebagai pengatur negara—maka kaum sekular ekstrem generasi baru ini justru secara terang-terangan mengaku sebagai satanis dan musuh Tuhan.
Lalu, apa yang terjadi kemudian?
Di negara-negara sekular dewasa ini, manusia mengalami kehampaan batin karena telah melenyapkan Tuhan dari hati mereka. Jean-Paul Sartre, filsuf Prancis abad modern, menyatakan:
“Dalam kesadaran manusia terdapat lubang berbentuk Tuhan. Ketika rongga yang pernah ditempati oleh Yang Ilahi itu lenyap, yang tersisa hanyalah kekosongan.”
Akibatnya, gangguan kejiwaan dan bunuh diri kian memenuhi ruang kehidupan modern. Fenomena ini justru banyak terjadi di negara-negara maju seperti Amerika Serikat, Eropa, Jepang, dan Korea Selatan.
Sebagaimana diberitakan oleh berbagai majalah, surat kabar, dan media daring, rakyat Irak, Afghanistan, dan Palestina diperangi dan gugur dalam kesalehan. Namun setelah itu, tidak sedikit serdadu Amerika, Inggris, dan Zionis Israel yang justru ramai-ramai mengakhiri hidup mereka sendiri.
Di Eropa, gereja-gereja kini tampak sepi dan melankolis. Anak-anak muda lebih memilih memenuhi tempat hiburan dan kafe beraroma rokok serta alkohol ketimbang mendengarkan khotbah pastor atau pendeta.
Kita juga kerap mendengar banyak orang tua yang hidup di panti jompo, meski memiliki anak-anak yang sukses secara ekonomi. Rumah tangga mereka telah kehilangan pengabdian dan kasih sayang.
Beberapa waktu terakhir, kita pun mendengar bahwa sekitar 2.800 gereja di Prancis telah dirobohkan karena kehilangan jemaat. Padahal, pada Abad Pertengahan, Prancis merupakan salah satu kekaisaran Kristen paling jaya di dunia. Itu baru di Prancis, belum lagi di Belanda dan negara-negara Eropa lainnya.
Fenomena apakah ini, jika bukan akibat dari hilangnya kepercayaan kepada Allah—Tuhan sekalian alam—sehingga manusia memposisikan diri mereka sebagai pesaing Tuhan?
(Desember 2022)











