DESEMBER KEMBALI SEPERTI DULU
Iwan Wientania
Aku melihatnya kuyup,
sementara petir sambung-menyambung
dan air matanya jatuh berlinang,
menelan seluruh mimpi kami berdua.
Ternyata Desember yang kami rindukan
meninggalkan aku terpaku
di bawah guyuran hujan
tanpa belas kasih pada kami berdua.
“Apa salahku?” tanyanya.
“Tidak ada yang salah.
Waktu itu kita terlalu muda.
Aku tak mengerti arti hidup
dan cintamu yang tulus dan murni.
Hidupku bergulir
laksana batu jatuh dari gunung,
tersangkut entah di mana,” jawabku.
“Kenapa tiada khabar berita untukku?” tanyanya.
“Aku pernah bersurat,
namun tiada balasan darimu,” jawabku.
“Mungkin ada yang menerimanya,
tapi tak menyerahkannya padaku…”
wajahnya sendu, memilu.
Bertahun aku memimpikannya
dan rumahnya yang sunyi.
Berganti penghuni,
kemudian tak berani kupandang.
Kabarnya ia telah memiliki anak
dengan nama sebagaimana namaku,
dan kini entah berada di mana—
kutak tahu.
Semoga ia berbahagia
dan selalu dalam lindungan-Nya.
Kini hujan datang mengganggu.
Bayangannya tetap hadir seperti dulu
dan berkata,
“Aku tak pernah lupa padamu, sayang.”
Kini hujan Desember
seakan berada di antara fiksi, mimpi, dan nyata
yang tak pernah reda,
sebagaimana
aku tak pernah lupa padanya.
(Depok, akhir Desember 2025)











